Fenomena Hujan Es di Surabaya, Pertanda Apakah Ini?

Kota Pahlawan Surabaya sedang dilanda fenomena hujan es sejak kemarin hari. Tak hanya turun butiran besar es batu saja, tapi juga disertai angin kencang hingga merusak bangunan rumah warga, kendaraan serta pohon-pohon banyak yang jatuh bertumbangan. Pemerintah daerah setempat bahkan memberikan saran untuk warganya, terutama para pengemudi kendaraan agar lebih berhati-hati menghadapi kejadian aneh dan langka hujan es ini.

Dilaporkan lebih dari 9 wilayah di Surabaya , pohon-pohonnya jatuh ke tengah jalan hingga menyebabkan kemacetan panjang di Jalan raya. Diantaranya sektor Jalan Karah, Persimpangan Manyar depan kebun bibit, belokan Prapen, Di utara RSI 1, Jalan Kutisari serta perempatan depan STTS Ngagel.
Apakah ini suatu pertanda alam untuk mengingatkan kita?

Detik-detik Hujan Es Turun di Surabaya

Meski sempat beredar rumor di masyarakat tentang fenomena aneh hujan es salju di kota Surabaya ini. Namun Bapak Albertus Kusbagio selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan penyebab dari turunnya hujan es di Surabaya tersebut. Menurut beliau, penyebab hujan es bisa saja terjadi akibat gelombang awan cumolonimbus dalam skala besar.

Hingga butiran air super dingin yang menggumpal di dalam awan tersebut jatuh turun dan merubah bentuk menjadi butiran-butiran es sebesar jari telunjuk tangan orang dewasa. Ada istilah dalam ilmu meteorologi, ketika hujan turun sampai tanah, anehnya masih berupa butiran es, inilah yang disebut sebagai “fenomena hail”, ungkap Albertus Kusbagio.

Foto Butiran Hujan Es Salju yang Jatuh Di Atap Rumah Warga

Beliau juga menambahkan saat terjadinya cuaca estrim ini berkisar di jam 3 siang sampai jam 5 sore. Hujan es ini sendiri sebenarnya tidak lama, karena langsung disusul dengan hujan deras disertai angin dahsyat hingga menyebabkan puluhan rumah warga mengalami kerusakan berat.

Sebenarnya pihak kami juga sudah memantau pergerakan hujan aneh ini dari pantauan citra radar yang mencakup wilayah Surabaya dan sekitarnya. Terlihat jelas pergerakan Awan Cumulonimbus diatas ketinggian 4 kilometer sebagai biang keladi fenomena aneh hujan es tersebut, ujar Albertus.